Selasa, 05 April 2016

Impresi kultural budaya terhadap pendidikan keluarga

Salam sejuta karya!!! 😊
Apa kabar sahabat pena yang masih,selalu dan akan kritis terhadap keadaan yang ramai di setiap kalangan?
Apa kabar pembaca setia yang sama-sama tak ingin lepas dari kasih sayang orang-orang yang disayang terutama orang tua?
Apa kabar para akademisi yang simpati tapi belum mampu berempati akan generasi emas namun tak punya kelas?Semoga tiada bosan tuk menggoreskan inspirasi yang terkadang datang tak di undang pulang tak diantar (udeh kaya jelangkung aja ya hehe) ;) . Semoga selalu setia tongkrongin rentetatan karya yang mudah-mudahan menemati waktu santaimu dan muncul rasa ingin ngepoin si writer.heheSungguh beruntung sekali kita yang diberi amanah sebagai penerus para pejuang-pejuang negri dan bisa menggali pendidiikan di lembaga yang kini semakin bersaing. Berbicara pendidikan,Pendidikan adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan seseorang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau imunisi-imunisi untuk keberhasilan seseorang tersebut. Pendidikan utama adalah pendidikan keluarga. Pendidikan yang diberikan orang tua merupakan pengaruh besar terhadap jati diri seorang anak.pendidikan keterlibatan orangtua berkorelasi erat dengan keberhasilan pendidikan anak. Sejumlah penelitian menunjukkan, keterlibatan orangtua yang lebih besar dalam proses belajar berdampak positif pada keberhasilan anak di sekolah. Keterlibatan orangtua juga mendukung prestasi akademik anak pada pendidikan yang lebih tinggi serta berpengaruh juga pada perkembangan emosi dan sosial anak. Namun terkadang, berbagai faktor, seperti faktor lingkungan yang menjadi kebiasaan dan berimbaskan pada kebudayaan yang seyogiannya berimpak pada pendidikan keluarga yang tak semestinya.Moralitas generasi penerus bangsa juga terancam karena hal tersebut. Mengingatkan akan kejadian yang sampai saat ini masih tergambar dalam benakku namun tak mamou, belum mampu tepatnya untuk menangani hal tersebut. Begini ni ceritanya Dua minggu yang lalu, tepatnya 18 Maret 2016 saya beserta rombongan melakukan ziarah ke beberapa tempat salah satunya ke Cirebon, yang merupakan suatu kota yang masih memiliki peninggalan-peninggalan keraton. Berupa fisik ataupun anak cucu cicit yang masih menyaksikan para penziarah yang tak henti berdatangan. Tentunya setelah mendapatkan surat izin pemerintah setempat. Salah satu kunjungan ziarah kami yaitu makam Sunan Syarif Hidayatullah atau lebih dikenal dengan Sunan Gunung jati. Ada pemandangan yang mengharukan tapi memilukan dengan berjajarnya warga setempat,entah warga asli sana atau pendatang dengan mengulurkan tangan. Banyaknya pengemis di sekitar komplek Pemakaman Sunan Gunung Jati di Astana Kabupaten Cirebon kian meresahkan pengunjung. Pasalnya para pengemis di salah satu situs sejarah Cirebon tersebut kerap memaksa pengunjung untuk agar memberikan uang terkadang sampai menarik tas milik pengunjung.Salah  satu pengunjung Makam Sunan Gunung Jati asal Bandung Gita Fitriani mengatakan dari perjalanan ziarah yang pernah dilakukannya di sejumlah tempat, kondisi terparah adalah Makan Sunan Gunung Jati karena jumlah pengemisnya sangat banyak."Idealnya saat berziarah kondisinya khidmat dan tenang, kalau banyak pengemisnya malah mengganggu suasana ziarah," katanya, Jum'at 18/3/2016).Gita mengungkapkan selain membuat risih pengunjung, banyaknya pengemis di sekitar Makam Sunan Gunung Jati menunjukan kurangnya perhatian pemerintah (Pemkab Cirebon) menangani masalah sosial."Kami berharap pemerintah ada penanganan serius agar pengunjung nyaman melakukan ziarah.Lebih memprihatinkan lagi saat melihat anak kecil yang patutnya berada di lingkup kelas sekolah, ini malah berjajaran seolah membuat pagar betis menyambut para penziarah dengan mengharapkan belas kasihan,  yang sudah menjadi kebiasaan bahkan mata pencaharian . Sungguh ironis sekali, pendidikan yang sejatinya bisa dibilang tidak adil, hendak kemana keluarganya? Apa akan terus sampai tujuh turunan dengan mata pencaharian yang tak mau capek? Tak sayangkah atas generasi-generasi emas yang saat ini perlu pupuk pendidikan yang oke, siraman kasih sayang yang semestinya diberikan?  Apa jadinya kala besar nanti? Tidak adakah yang senantiasa rela mengayomi tuk berseragam merah putih,menggendong tas,bertopi merah dan berdasi seperti halnya yang terjadi diberbagai kota bahkan desa? Sekalipun yang bersekolah, pantaskah seusia mereka sudah mencari nafkah? Walaupun tidak sepenuhnya salah tak bisakah sang orang tua tidak menyuruhnya untuk minta dan minta yang pada akhirnya mental anak berkembang dengan tak wajar. Kesenangan, kepuasan yang mereka temukan hanyabkarena mendapatkan uang sepuluh ribu?  Merasa puas akan jerih payah sepulang sekolah bersama sekelompok temannya bahkan sekeluarganya, bapak, ibu,  kakak, adik bahkan bersama sang nenek? Sungguh ironis sekali, pencaharian macam apa itu? Katanya lapangan pekerjaan mulai luas, katanya perdagangan mulai menjamur belum lagi yang sekarang-sekarang ini dibumingkan akan adanya MEA (Masyarakat Ekonomi Asean). So bagaimana dengan hal demikian? Terlebih lagi dunia pendidikan yang sedang mengedepankan pendidikan karakter. Kararakter yang seperti apakah yang mereka tanamkan? Sungguh, keluarga yang perlu imunisi pendidikan yang sinkron dengan lingkungan yang menjadi kebiasaan bahkan budaya bagi mereka.karena  faktor karakter kurang menjadi perhatian dalam penyelenggaraan pendidikan. Ini semua harus menjadi salah satu hasil penting usaha pendidikan, baik pendidikan dalam keluarga, pendidikan sekolah maupun pendidikan dalam masyarakat. Akan tetapi karena pendidikan pada anak paling dulu dilmulai dalam pendidikan dalam keluarga, maka pendidikan dalam keluarga yang seharusnya memberikan dasar yang kemudian diperkuat dan dilengkapi dalam pendidikan sekolah dan pendidikan dalam masyarakat. Saya berharap pemerintah setempat menangani hal demikian yang saya kira kebiasaan tersebut telah hilang, miris akan anggapan orang-orang awwam yang hanya meng estapetkan apa yang mereka lihat sehingga beranggapan tempat ziarah dijadikan sebagai ladang pencaharian.. anggapan yang sekaligus menggoreskan luka terutama  sebagai orang islam yang tau akan cerita perjuangan para ulama khususnya, dan saya berharap saat kembali ziarah kesana minimalnya pemerintah setempat atau siapapun yang peduli meminimalisir pengemis disana terutama kalangan anak kecil dan jompo, Mengingat pentingnya pendidikan seorang anak yang semestinya keluarga lebihbmendominasi perihal tersebut. kalaupun hendak mengadakan infaq kebersihan khusus para petugas legal atau keluarga sultan, atau kalau sebagian dari warga sebagai ladang sedekah juga, ada aturan tertentu jangan sampai seluruh pinggir jalan penuh dengan peminta-minta dan jangan samoai mengganggu kekhidmatan suasana ziarah.Kejadian tersebut salah satu contoh pengaruh lingkungan yang menjadi kebiasaan bahkan budaya terhadap pendidikan keluarga dan mentalitas anak.
Semoga bermanfaat 😊